Kajian keilmuan kali ini diadakan oleh Insists Indonesia dengan media daring. Kegiatan ini mengusung tema "al-Jawahir al-Kalamiyyah & Gagasannya tentang Rekonsiliasi Akidah Salafi-Asy'ari" dengan mengundang pembicara Dr. Tiar Anwar Bachtiar, Peneliti INSISTS.
Pembukaan
Amalan
yang berbeda itu hanya kategori masalah furu'iyyah (cabang), yang pada dasarnya tidak
masalah bila beda Perbedaan
pandangan tentang madzab akidah:
1.
Abu Hasan Al-Asy'ari (Asya'irah)
2.
Ibnu Taimiyyah (Salafy)
Dalam
perkembangannya, permasalahan
mengenai aqidah ini dijadikan alat identifikasi yang saling menyesatkan
oleh dorongan politik dan kekuasaan. al-Jawahir
al-Kalamiyah (produk awal abad 20) dan Kitab Tauhid, kedua buku tidak
mempermasalahkan kedua madzhab.
Al-Jawahir al-Kalamiyah pendekatannya tekstual-naqliyah, jadi lebih
banyak pengikut. Risalah
tauhid pendekatannya aqliyah-falsafiyah, jadi lebih inklusif atau sedikit
pengikutinya. Di Indonesia,
organisasi seperti Muhammadiyah, Persit, Gontor, dkk, tidak
mempermasalahkan kedua madzhab, malah mengambil intisari kedua ajaran.
Polarisasi Salafy-Asy'ari saat ini sudah pada level yg tidak
sehat, saling menegasikan satu
sama lain. Padahal hal
tersebut dapat membuat sejarah terulang, seperti pada runtuhnya
dinasti Abasiyah adalah perbedaan madzhab fiqh yang sangat kental. Perbedaan
madzhab fiqh sekarang sudah agak mereda. Bahasan selanjutnya pada diskusi ini adalah Buku al-Jawahir al-Kalamiyah.
Identitas Buku al-Jawahir
al-Kalamiyah
Buku ini ditulis oleh Thohir
bin Sholih bin Ahmad bin Mauhub Sam'uni bin al-Jaza'iry, lahir dan besar di
Damaskus (mazhab Syafii dan Asyi'ari). Beliau merupakan seorang faqih bermadzhab Maliki dan seorang mufti besar Damaskus. Beliau pernah tinggal di Mesir 1918. Pada saat itu, terdapat tokoh yang masyhur yakni
rasyid ridho, pemimpin al-manar mesir. Buku ini bersifat eklektik (memilih
yang terbaik dari berbagai sumber (tentang orang, gaya, metode) -kbbi), membandingkan pendekatan satu
sama lain.
Isi
Buku:
1.
Penulis
menerima Sifat 20 (asya'irah). Al-Qur;an dan Sunnah merupakan dasar utama. Sifat 20 dan
trilogi tauhid bersifat ijtihadiyah, ada dalil bukan bid'ah.
2.
Penulis
lebih cenderung memilih
aqidah salaf (3 generasi pertama) daripada khalaf (setelah masa itu, setelah abu hasan). Menurut beliau, salaf
lebih selamat, khalaf boleh ketika dibutuhkan. Tetapi Salaf dan khalaf tidak termasuk ke perbedaan jalan yang sesat dalam
metode pendekatannya. Dua jalan sesat yang dimaksud, yakni menolak semua sifat allah (mu’atillah), menyamakan allah dengan
makhluknya (mu’tazilah).
3.
Contohnya
adalah pemaknaan kata Istiwa' dalam Al-Quran. Istiwa’-nya Allah merupakan duduk (namun tidak sebagaimana duduknya makhluk, duduk yg
layak). Yg dinisbatkan kepada Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. makna tafwidh. Istiwa' ditafsirkan
sebagai kekuasaan. makna takwil. Walau berbeda tapi dua-duanya sepakat bahwa yg
menyerupakan adalah sesat.
Sesi QnA
·
Kalau di kalangan urban, yang banyak aqidah
salafy, yang berpotensi membuat islam menjadi mundur karena menolak diskursi
pembaharuan dan cenderung tekstual. sebenarnya bukan soal itu, tapi soal
awaeness kita dalam menghadapi manusia. Bagaimana kita menciptakan kekuatan
kultural?
Tidak
selalu wahabi akan selalu mundur. Aswaja akan selalu maju. Tradisional tidak
selalu mundur, modernisme tidak selalu maju. Kalau wilayah teologis dibawa ke unsur politik, jadinya malah
berbahaya. Pemimpin politik jangan menjadikan ini komoditas. Ulama-nya saling
duduk bersama dan tidak saling berdebat, menunjukkan ke masyarakat bahwa gaada
apa-apa.
·
Kenapa
wahabi jadi common enemy?
Ini bagian dari adu domba. Kenapa mendukung aswaja dan menghajar wahabi padahal gaada debat teologis dan kalam, pengadu domba berasal dari kaum non-muslim yang masuk melalui pintu lain, misalny terorisme yang dekat dengan wahabi. Soalnya membenturkan madzhab fiqh sudah tidak bisa lagi, jadi mencari topik adu domba lagi.
![]() |
| <a href='https://www.freepik.com/photos/people'>People photo created by jcomp - www.freepik.com</a> |

Komentar
Posting Komentar