Langsung ke konten utama

Catatan Kajian : Sinergi Ilmu Filsafat dan Agama di Era Pandemi

 Pembicara : Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum.

Kajian kali ini diadakan oleh Masjid Kampus UGM dalam kanal YouTube-nya. Kajian ini dilakukan dalam menyebut Ramadhan tahun ini. Kajian ini dibuka dengan introduksi mengenai makna sinergi, sinergi ini dapat diartikan dengan cara mengelola dua kekuatan menjadi satu, memadukan beberapa kekuatan menjadi satu tujuan tertentu atau satu energi. Sebab kata sinergi itu berasal dari kata sin dan energi. Sedangkan ilmu dapat diinterpretasikan sebagai sebuah energi yang sangat penting dalam pemikiran islam. Pentingnya ilmu dapat dibaca dalam surat Ar-Rahman: 33, Kata sulthon di dalamnya memiliki arti kekuatan dalam menguasai satu perkara; kekuasaan-kemampuan-dan bukti (evidence); kelapangan-kedalaman ilmu yg dimiliki oleh seseorang.

Lantas bagaimana ilmu sebagai potensi manusia dapat bekerja. Ilmu bekerja dengan rasionalitas, di samping ilmu yang kita dapatkan dapat dicari melalui pengalaman empiris. Ilmu terjalin dalam suatu proses observasi, klasifikasi, hipotesis, dan pengujian (yang termasuk ke dalam proses ilmiah), kebenarannya bersifat relatif dan tergantung pada perspektif ilmu yang didalami.

Lalu, bagaimana filsafat sebagai potensi manusia. Sama seperti ilmu, dasarnya adalah rasionalitas. Namun ada dasar lain yang dikenal dengan meta-rasionalitas (intuisi) untuk memahami hukum sains biasa. Intuisi itu bersifat supralogis, mengatasi aspek-aspek logika. Dalam memahami filsafat, kita memerlukan rasa ingin tahu dan untuk memahami rasa ingin tahu tadi memerlukan hermeneutics, cara menafsirkan atau menerjemahkan teks agar menemukan pemahaman baru dari teks yang sudah ada. Memberikan pemahaman yang lebih kaya terhadap dari teks yang sudah ada.  Filsafat ini memiliki sifat reflektif. Dapat memahami pengalaman hidup menjadi sesuatu yang lebih universal. Sifat kebenaran filsafat itu perenungan individual walaupun nanti akan membentuk mainstream atau madzhab umum.

Terakhir, Agama sebagai potensi manusia. Agama ini merupakan pemahamana suprarasionalitas, bergantung pada keyakninan (faith), logika manusia tidak bisa digunakan untuk menguji logika Tuhan. Manusia tidak bisa memahami takdir yang sudah dituliskan. Pentingnya dalam membaca tanda dari Allah, ayat qauliyah dan ayat kauniyah. Ilmu dan filfasat bersifat relatif, sedangkan agama bersifat absolut, karena ilmu agama diyakini bersumber langsung dari Allah.

Demarkasi (pembatas/pembeda) ilmu, agama, dan filsafat, yakni agama berada pada tatanan paling tinggi karena bersumber pada Tuhan dan keyakinan, lalu filsafat yang terus menurus mempertanyakan ilmu yang sudah ada, dan terakhir adalah ilmu yang berbasis evidence. Lantas bagaimana cara kita menyinergikan semua itu. Menyinergikan ilmu dan filsafat, ilmu berbasis ilmiah, sedangkan filsafat bersifat meta-rasionalitas. Spesialisasi filsafat terletak pada keumumannya. Filsafat ketika terus bertanya, ilmu terus mencari jawaban. Sinergi keduanya terletak pada kebeneran yang terus berkembang menurut zaman. Tugas ilmu itu mencari kehidupan yang lebih baik dengan ilmu yangg dimiliki (ilmu sebagai agent of change), begitu pula filsafat.

Kemudian, menyinergikan ilmu dengan agama. Beberapa orang memahami hal ini sebagai hal yang terpisah (sekulerisme). Pertamanya terjadinya pada era renaissance. Ilmu dan agama bersumber pada rasionalitas, dasar dari ilmu dan agama adalah tafakur (memikirkan). Agama tidak bermusuhan dengan ilmu namun mendorong untuk mengembangkan ilmu. Ilmu masuk membaca ayat kauniyah, namun fenomena-fenomena alam itu adalah hal sunatullah. Agama mengajarkan ketetapan Allah yang bersifat fitrah (makna asal kejadian, suci, dsb.). Sinerginya di sini, dimana fitrah tentang sunnatullah yang merupakan ketetapan Allah yang dapat dipahami oleh akal manusia.

Terakhir, menyinergikan ketiga unsur ini. Potensi yang luar biasa yang dapat dikembangkan manusia. Ilmu bertindak sebagai rasio dan melihat dari sudut pandang logika, butuh langkah yang sangat ilmiah. Hukum alam bersifat tetap, kausalitas, memahami dengan observasi-dsb. Eksplorasi ilmu yang dilakukan untuk mencoba menangkap dan memahami fenomena alam dengan berbagai macam cara. Filsafat digunakan untuk mengkritisi evidence ilmiah yang sudah ditemukan, ilmu-ilmu terus berkembang menurut zamannya. Ilmu dapat bergerak lebih cepat atau lebih lambat. Peran filsafat ini salah satu cara melihat dimensi baru atau fakta baru yang diperkirakan. Agama untuk menjaga agar manusia dapat berjalan sesuai dengan fitrahnya. Sejauh mana kita mampu refleksi diri agar dapat mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan di akhirat kelak. Muaranya adalah satu, yakni Al-Haq, Tuhan yang Mahabenar. Tugas ketiga pandangan tadi untuk mencari penyelesaian bukan untuk mencari popularitas atau kemasyhuran. Perkembangan teknologi yang terus berkembang di era ini. Walaupun tidak sempurna (kesempurnaan hanya milik Allah), namun pengembangan akan terus bergerak. Filsafat memberikan refleksi kritis terhadap kondisi yang ada. Semoga muara ini dapat bersinergi dan memberikan sesuatu yang positif.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyosong Bulan Mulia

ALLAHUMMA BAARIK LANAA FII ROJAB WA SYA’BAN WA BALLIGHNAA ROMADHAN Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban, serta perjumpakanlah kami dengan Bulan Ramadhan

Memuliakan Bulan Mulia

Segala puji Alllah, Tuhan semesta alam. Karena hanya berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senatiasa bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita, utamanya nikmat iman dan nikmat islam yang kita rasakan saat ini, yang semoga dengan itu kita bisa dikumpulkan kembali di surga-Nya kelak. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sosok yang paling sibuk di hari kiamat kelak demi menyelamatkan umatnya. Siapa lagi kalau bukan, junjungan kita, rasulullah Muhammad SAW, yang syafaatnya kita nantikan di hari kiamat kelak. Karena perjuangannya pula, kita bisa merasakan indahnya islam dan berkumpul di sini sebagai saudara dalam keimanan dan ketaqwaan. Ya maashiral muslimin , Sudah berapa lama Ramadhan telah membersamai kita? Ya mungkin kurang lebih tiga hari, namun sudahkah kita memaksimalkan hari-hari tersebut dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan terus ibadah kita kepada Allah ta’ala. Semoga ...