Langsung ke konten utama

Merengkuh Cahaya Hidayah

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
[Al Qashash/28 : 56]

Assalamu’alaikum, sobat dari berbagai dimensi
Kali ini marilah kita diskusikan tentang apa itu hidayah?
Apakah itu majalah yang covernya mengerikan dengan judul yang tak kalah membuat hati bergidik saat melihatnya? Bukan, jelas.. itu berbeda dengan yang mau kita bahas
Atau nama salah satu teman kita yang berhijab dan selalu menjaga pandangannya saat bertemu dengan lelaki? Bukan, membicarakan orang itu ga baik, walaupun awalnya kita membicarakan tentang kebaikannya, aku khawatir mulut ini mengeluarkan aib-aibnya yang ku ketahui juga
Lantas apa hidayah yang mau kita bahas...

Hidayah merupakan cahaya petunjuk dari Allah kepada umatnya yang dikehendaki untuk senantiasa mengikuti jalanNya yang lurus dan benar. Siapapun yang mendapatkannya akan terus berjalan di jalan kebaikan dan tergolong ke dalam golongan orang-orang yang beruntung; sedangkan yang Allah tidak beri hidayah, dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Nabi Muhammad juga Nabi dan Rasul pendahulunya pun hanya bertugas untuk menyampaikan kebaikan kepada umatnya namun tidak memiliki hak untuk memberikan hidayah kepada kaum yang didakwahinya. Ini mengingatkanku kepada kisah Paman Nabi, Abu Thalib bin Abdul Muthalib, yang meninggal dalam keadaan belum berislam.

Ketika Abu Thalib berada pada sakaratul maut, Nabi Muhammad mendatangi beliau untuk mentalqinkan beliau.

Rasulullah Muhammad berkata,“Wahai, pamanku. Ucapkanlah la ilaha illallah; suatu kalimat yang dapat aku jadikan pembelaan untukmu di hadapan Allah.”

Namun ucapan nabi segera diikuti oleh ucapan ‘Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahal, “Apakah engkau (Abu Thalib) membenci agama Abdul Muththalib?”.

Demikian keadaannya terus berlangsung hingga Abu Thalib meninggal dunia dan beliau pergi dari dunia masih menggenggam agama lamanya. Nabi pun hendak mendoakan Abu Thalib namun Allah mengingatkan kekasihNya itu dengan firmannya dalam surah At-Taubah ayat 113 yang berbunyi :
“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam.”

Hidayah ini unik karena Allah sendiri yang berhak memberikannya kepada siapapun yang dikehendakiNya. Orang-orang jahat sejahat-jahatnya, orang-orang yang melakukan banyak kemungkaran selama hidupnya, dan orang-orang yang kita kira akan terus berbuat kerusakan, Allah bisa memberikan hidayah kepada mereka di penghujung kehidupan mereka. Orang-orang yang kita kira baik bahkan diri kita sendiri yang kita kira sudah baik pun tiada yang menjamin bahwa Allah akan tetap memberikan hidayah hingga akhir kehidupan kita. Oleh karena itu, dalam shalat kita selalu memanjatkan doa, doa yang terselip dalam surat Al-Fatihah yang kita baca, “berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus.”

Lagi-lagi, aku teringat dengan kisah lelaki Quraisy yang dulunya adalah orang yang keras hatinya, yang memusuhi islam, juga Nabi Muhammad. Namun siapa sangka, di tengah perjalanan untuk membunuh Nabi Muhammad, hidayah dari Allah turun kepadanya. Hidayah yang mengubah manusia tersebut dari pembenci menjadi pembela, mengubah rasa tidak suka di hatinya menjadi cinta yang membara, hingga menjadikannya seorang Khalifah kedua. Yap, beliau adalah Umar bin Khattab, Sang Singa Padang Pasir. Begini kisahnya sobat...

Rasulullah pernah berdoa “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahal)”.  

Dua orang Quraisy ini memiliki perlawanan yang gigih terhadap penyebaran islam. Namun apabila salah satu dari dua orang itu masuk islam, insyaallah kekuatan islam dalam penyebarannya akan lebih kuat. Umar ibn Khattab sendiri pernah berencana untuk membunuh Rasulullah namun di tengah perjalanannya bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah al ‘Adawi, seorang laki-laki dari Bani Zuhrah. Nu’aim menerangkan bahwa adiknya Umar, Fatimah, telah menjadi muslimah. Setelah mengetahui hal itu, Umar bergegas pergi ke rumah Fatimah. Di rumah Fatimah, ia menjumpai Khabab bin Art dan Sa’id-suami Fatimah-sedang mengajari Fatimah membaca Al-Qur’an, maka Umar pun langsung memukul Fatimah. Pada saat itu, Fatimah menolak memberikan mushaf kepada Umar kecuali ia bersuci terlebih dahulu. Kemudian, Umar pun langsung mandi dan membaca mushaf tersebut. Yang pertama kali dibacanya adalah awal surat Thaha. Seketika itu juga Allah melapangkan hati Umar dengan bacaan ayat tersebut, lalu ia langsung pergi ke Darul Arqam. Kedatangan Umar bin Khattab dengan pedang di tangannya membuat para sahabat menjadi ketakutan namun Hamzah bin Abdul Muthalib meyakinkan para sahabat agar tidak gentar dan tetap mengizinkan Umar masuk. Setelah masuk, Umar bin Khattab mengikrarkan diri masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Para sahabat pun berseri-seri menyambut syahadat Umar bin Khattab.

            Yap, begitulah penjelasan tentang hidayah juga kisah-kisah hidayah yang tercantum dalam hadist, juga dari asbabun nuzul dari beberapa ayat Al-Qur’an. Semoga hidayahNya selalu menuntun kita dalam jalan yang lurus. Aamiin



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyosong Bulan Mulia

ALLAHUMMA BAARIK LANAA FII ROJAB WA SYA’BAN WA BALLIGHNAA ROMADHAN Ya Allah, berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban, serta perjumpakanlah kami dengan Bulan Ramadhan

Catatan Kajian : Sinergi Ilmu Filsafat dan Agama di Era Pandemi

  Pembicara : Dr. Rizal Mustansyir, M.Hum. Kajian kali ini diadakan oleh Masjid Kampus UGM dalam kanal YouTube-nya. Kajian ini dilakukan dalam menyebut Ramadhan tahun ini. Kajian ini dibuka dengan introduksi mengenai makna sinergi, sinergi ini dapat diartikan dengan cara mengelola dua kekuatan menjadi satu, memadukan beberapa kekuatan menjadi satu tujuan tertentu atau satu energi. Sebab kata sinergi itu berasal dari kata sin dan energi. Sedangkan ilmu dapat diinterpretasikan sebagai sebuah energi yang sangat penting dalam pemikiran islam. Pentingnya ilmu dapat dibaca dalam surat Ar-Rahman: 33, Kata sulthon di dalamnya memiliki arti kekuatan dalam menguasai satu perkara; kekuasaan-kemampuan-dan bukti (evidence); kelapangan-kedalaman ilmu yg dimiliki oleh seseorang. Lantas bagaimana ilmu sebagai potensi manusia dapat bekerja. Ilmu bekerja dengan rasionalitas, di samping ilmu yang kita dapatkan dapat dicari melalui pengalaman empiris. Ilmu terjalin dalam suatu proses observasi, k...

Memuliakan Bulan Mulia

Segala puji Alllah, Tuhan semesta alam. Karena hanya berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang senatiasa bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada kita, utamanya nikmat iman dan nikmat islam yang kita rasakan saat ini, yang semoga dengan itu kita bisa dikumpulkan kembali di surga-Nya kelak. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada sosok yang paling sibuk di hari kiamat kelak demi menyelamatkan umatnya. Siapa lagi kalau bukan, junjungan kita, rasulullah Muhammad SAW, yang syafaatnya kita nantikan di hari kiamat kelak. Karena perjuangannya pula, kita bisa merasakan indahnya islam dan berkumpul di sini sebagai saudara dalam keimanan dan ketaqwaan. Ya maashiral muslimin , Sudah berapa lama Ramadhan telah membersamai kita? Ya mungkin kurang lebih tiga hari, namun sudahkah kita memaksimalkan hari-hari tersebut dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan terus ibadah kita kepada Allah ta’ala. Semoga ...