Langsung ke konten utama

Menjaga Tauhid


"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)."
(QS. An-Nahl : 36)


Assalamu’alaikum, Sobat...
Semoga Engkau senantiasa sehat selalu dan Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita agar kita selalu terjaga dalam perlindungannya
Tahukah kau ada satu pegangan yang harus terus kita genggam,
Sebagai seorang muslim tentunya kau tahu itu
Yap, itu Tauhid...

Tauhid secara bahasa adalah menjadikan sesuatu satu saja, secara makna adalah mengesakan Allah sebagai rab yang satu dan mengingkari sembahan-sembahan selainNya. Ketika kita mengucap syahadat, kita telah mengikrarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kita harus paham segala konsekuensi untuk menjaga kemurniaan ikrar kita kepada Allah tadi, kita harus mengesakan Allah ta’ala dalam rububiyyah (keyakinan bahwa Allah satu-satunya Dzat yang menciptakan, mengatur, menguasai, mematikan segala sesuatu yang ada di alam ini), uluhiyyah (dalam peribadahan hanya ditujukan kepada Allah semata), juga Asma’ wa Sifat (meyakini nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan Allah dan diceritakan oleh Rasulullah).
           
            Selain itu, Tauhid kita juga harus disempurnakan dengan mengingkari sesembahan-sesembahan selainNya. Kita bertauhid ketika kita bisa meyakini segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan kekuasaanNya semata, bukan yang lain.
Pernahkah kau melihat pada saat-saat tertentu, banyak orang yang mempersembahkan qurban kepada gunung, kepada laut, bahkan kepada roh-roh halus??
Pernahkah kau melihat ada orang yang melakukan semedi, ritual, dan sebagainya demi merengkuh jabatan, kekuasaan, juga demi mendapatkan uang??
Semoga Allah melindungi kita dari perilaku-perilaku tersebut. Kita semestinya paham bahwa Tauhid ini bukan hanya mengesakan Allah semata, namun harus mengingkari thaghut-thagut (hal-hal yang diagungkan selain Allah).

            Oh iya... di awal tadi, tentang konsep tauhid yang terbagi atas rububiyyah, uluhiyyah, dan asma’ wa sifat. Tauhid rububiyyah telah diyakini oleh umat-umat terdahulu hingga sekarang, baik yang muslim maupun yang bukan,  hal ini sesuai dengan firman Allah “Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah menciptakan mereka?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ” (QS. Az Zukhruf: 87).
Lantas apa yang membedakan kita sebagai muslim dengan mereka yang kafir, yang membedakan ialah kita mengingkari sesembahan selain Allah, kita hanya shalat, puasa, dan berkurban kepada Allah semata. Di sinilah letak nilai Tauhid Uluhiyyah, nilai ibadah kita semata hanya untuk Allah dan ini merupakan ajaran yang senantiasa dibawa oleh nabi dan rasul, sesuai dengan firman Allah dalam surah an-Nahl ayat 36 : “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.” Dengan menjaga kemurniaan tauhid ini, insyaallah kita akan mendapatkan surga. Tentunya kalian pernah mendengarkan hadits Rasulullah yang berbunyi “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (Hadits riwayat Abu Dawud). Semoga kita bisa menjaganya hingga akhir hayat kita. Hhhhmmm.. aku baru teringat akan kisah sahabat yang belum pernah shalat namun masuk surga karena tauhidnya. Sebentar...

            Oke, gas... sahabat ini adalah Amr ibn Tsabit Al Waqsy, atau lebih dikenal sebagai al-Ushairim. Seorang Yahudi yang pergi ke medan Uhud, mengikarkan diri sebagai seorang muslim, kemudian berperang demi Allah dan Rasulullah. Al Ushairim ini pun mengalami luka-luka akibat perang Uhud. Pasukan muslim pun menemukan beliau dengan tatapan pandangannya yang terakhir berada di antara kumpulan orang yang telah meninggal. mereka pun berkata, “Ini Amr. Mengapa ia ada di sini?”, Maka mereka bertanya kepadanya, “Apa yang membawamu ke sini, wahai ‘Amr?”; “Apa karena simpati kepada kaummu (suku Aus yang berperang menghadapi suku Quraisy atau keinginan masuk Islam?” Ia menjawab, “Justru aku ke sini karena cinta terhadap Islam. Aku telah memeluk Islam. Aku pun berjuang hingga terkena luka-luka seperti yang kalian lihat. Tidak berapa lama kemudian ia meninggal. Mereka pun menceritakan perihalnya kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau bersabda, “Ia termasuk penghuni surga”. Ini diriwayatkan oleh Imam Ibn Al-Atsir yang dihasankan oleh Ibnu Hajar.

            Masyaallah, semoga kita selalu berada dalam Tauhid dan dijaga oleh Allah untuk tetap beriman. Jika kalian ingin mengetahui lebih banyak tentang tauhid, kalian bisa membaca kitab tauhid karangan Syaikh Muhammad At-Tamimi atau kitab tauhid karangan Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan. Sekian untuk tulisan penyegar tauhid kali ini.

Wassalamu’alaikum...


Komentar